Matinya Kepakaran di Dunia Pertanian
Senin, 01 Desember 2025

Matinya Kepakaran di Dunia Pertanian

“Semua orang kini bisa jadi ahli.”
Kalimat itu terdengar seperti kabar baik di era digital, tapi dalam praktiknya justru membawa persoalan baru. Ketika informasi bisa diakses bebas, batas antara pengetahuan dan opini kabur. Inilah yang disebut Tom Nichols dalam bukunya The Death of Expertise sebagai fenomena “matinya kepakaran”—ketika suara ahli tenggelam di lautan komentar orang-orang yang merasa sama pintarnya. Fenomena ini tak hanya terjadi di bidang politik atau kesehatan. Dunia pertanian yang seharusnya jadi ladang ilmu dan pengalaman kini juga diguncang oleh gelombang yang sama.

Ketika Penyuluh Tak Lagi Didengar 

Di banyak desa, penyuluh pertanian dulu adalah sosok yang dihormati. Mereka menjadi jembatan antara ilmu kampus dan ladang, menjelaskan kenapa satu varietas lebih cocok di dataran rendah, atau bagaimana cara mengatur pH tanah agar tanaman tidak stres. Namun, belakangan posisi itu goyah. Petani yang dulu sabar mendengarkan penyuluh kini sering berkata, “Saya sudah lihat di YouTube, caranya lebih cepat dan hasilnya lebih banyak". Internet telah menciptakan ilusi pengetahuan instan. Petani merasa tak perlu bimbingan karena informasi tersedia di genggaman tangan. Padahal, banyak “ilmu daring” yang tidak sesuai dengan kondisi agroekosistem lokal tanah, iklim, dan varietas yang berbeda. Ketika hasilnya tak sesuai harapan, penyuluh justru disalahkan karena dianggap ketinggalan zaman. Di sisi lain, sebagian penyuluh memang masih terpaku pada cara lama. Mereka mengandalkan penyuluhan formal yang kaku dan jarang masuk ke ruang digital tempat petani muda mencari informasi. Akibatnya, pengetahuan benar kalah bukan karena salah, tapi karena kalah menarik. 

Petani dan Masyarakat di Tengah Banjir Informasi

Krisis kepercayaan ini tidak hanya menimpa petani. Masyarakat perkotaan yang mulai gemar berkebun juga terjebak dalam banjir informasi.
Fenomena urban farming misalnya, berkembang pesat di media sosial. Banyak yang terinspirasi untuk menanam sayur di balkon rumah, hal yang patut diapresiasi. Namun, di balik semangat itu, muncul pula gelombang kepakaran semu. Beredar video dengan klaim fantastis—tanam kangkung bisa panen tiap tiga hari tanpa pupuk, atau air cucian beras bisa menggantikan seluruh kebutuhan nutrisi tanaman. Konten seperti ini disukai jutaan penonton karena mudah dipahami dan tampak berhasil. Tapi secara ilmiah, sebagian besar keliru. Masalahnya, yang keliru sering kali lebih viral daripada yang benar. Dan dalam dunia digital, kebenaran tak lagi diukur dari data, melainkan dari jumlah like dan viewer

Influencer Menggantikan Ahli

Media sosial melahirkan otoritas baru: para influencer pertanian. Sebagian dari mereka memang berpengalaman, tapi tidak sedikit yang sekadar pandai bicara, pandai mengedit video, dan pandai membangun citra. Di mata publik, suara mereka lebih meyakinkan daripada penyuluh yang bicara dengan istilah teknis dan tabel data.
Tom Nichols menyebut ini sebagai collapse of the gatekeepers runtuhnya penjaga gerbang pengetahuan. Siapa pun kini bisa bicara apa saja, tanpa proses verifikasi, tanpa tanggung jawab moral terhadap dampaknya. Kepakaran pun menjadi konten hiburan.
Dan perlahan, ilmu pertanian yang dulu dianggap sakral berubah menjadi sekadar “trik cepat panen.”

Menghidupkan Kembali Kepercayaan pada Ilmu

Namun, menyalahkan internet atau para influencer bukan solusi. Yang perlu dilakukan adalah menghidupkan kembali kepercayaan terhadap ilmu dan penyuluh dengan cara yang relevan dengan zaman.

Penyuluh harus bertransformasi, bukan hanya menjadi pengajar di lapangan, tapi juga komunikator digital yang mampu menjelaskan sains dengan bahasa sederhana.
Petani milenial bisa menjadi jembatan—menggabungkan pengalaman empiris dengan pengetahuan ilmiah, lalu menyebarkannya dalam format yang mudah dicerna. Kampus dan lembaga riset pun perlu turun dari menara gadingnya, menerjemahkan hasil penelitian menjadi pesan publik yang membumi. Lebih dari itu, masyarakat harus kembali belajar merendahkan hati di hadapan pengetahuan.
Membaca tidak sama dengan memahami. Menonton video tidak sama dengan mengalami. Dan tidak semua yang viral adalah benar.


Refleksi

Matinya kepakaran di dunia pertanian bukan berarti pakar sudah punah, melainkan karena rasa percaya pada kepakaran yang kian pudar.
Padahal, di tengah krisis pangan dan perubahan iklim, kita justru membutuhkan keputusan berbasis ilmu lebih dari sebelumnya. Maka, di tengah riuhnya konten dan klaim pertanian instan, mungkin sudah saatnya kita kembali bertanya:
Apakah kita sedang menanam pengetahuan, atau sekadar menanam kesan bahwa kita tahu? Karena jika kepakaran benar-benar mati, yang akan kita panen nanti bukan hasil, melainkan kebingungan.

Admin
081952888719