Basis pada bisnis pertanian, Zen Noh merupakan koperasi pertanian terbesar dari 300 koperasi yang di ranking International Cooperatives Aliance (ICA). Jejaring bisnis koperasi Zen Noh telah menjangkau ke berbagai negara. Kisah sukses koperasi Zen Noh menunjukkan bahwa para petani Jepang memiliki daya tawar (bergaining position) yang kuat dalam konstelasi ekonomi dan politik negaranya.
Sudah menjadi pengetahuan umum, di Negeri Sakura itu berbagai komoditi pertanian yang dihasilkan petaninya jauh lebih mahal dibandingkan komoditi sejenis di negara lain. Tapi pemerintah Jepang tidak bisa sembarangan mingimpor hasil pertanian dari negara lain tanpa persetujuan petani. Dalam banyak kasus, menteri pertanian Jepang bisa jatuh karena mengabaikan aspirasi petani. Dan ini bukan hal aneh terjadi di Jepang.
Para petani Jepang memiliki kekuatan ekonomi dan politik antara lain karena mereka solid berhimpun dalam sebuah koperasi pertanian. Namun, soliditas mereka bukan cuma ditunjukkan untuk menekan (pressure group) melainkan juga dalam mengembangkan jaringan bisnis. Inilah hal terpenting para petani Jepang berhimpun dalam koperasi.
Koperasi pertanian Jepang membentang dalam jaringan yang kokoh, dari tingkat primer hingga sekunder, yang berpuncak pada Zen Noh sebagai federasi koperasi pertanian di tingkat nasional. dengan perputaran omset mencapai 63.449 USD atau Rp 583,73 triliun per tahun, pada 2007 Zen Noh menempati urutan tertinggi dalam ICA Global 300.
Zen Noh berdiri pada 30 Maret 1972, hasil penggabungan dua sekunder koperasi pertanian level nasional, yaitu Zenkoren yang bergerak dalam pengadaan kebutuhan pertanian dan Zenhanren yang bergerak di bidang pemasaran produk pertanian. secara keseluruhan, Zen Noh menghimpun 1.173 koperasi pertanian, 1.010 diantaranya meripakan koperasi primer pertanian. Sisanya merupakan koperasi sekunder pertanian tingkat provinsi serta federasi koperasi lain yang terkait dengan bidang pertanian dan peternakan. Hampir semua kebutuhan koperasi Jepang di penuhi melalui koperasi ini, mulai dari pengadaan berbagai peralatan dan input produksi pertanian, permodalah sampai pemasaran produk pertanian.
Dengan jaringannnya, koperasi pertanian Jepang ini menangani sektor pertanian daru hulu sampai hilir, termasuk sektor pendukungnya seperti keuangan dan asuransi. Pada awalnya, tanaman pertanian yang menjadi perhatian adalah padi. Total produksi beras yang dihasilkan, rata-rata 1,58 juta ton per tahun. Namun, pada perkembangan selanjutnya, koperasi juga mengarahkan petani untuk melakukan diversivikasi tanaman. Hal ini bertujuan agar tidak over supply beras yang bisa menyebabkan harga beras jatuh. Koperasi ini memang selalu mengupayakan agar seetiap harga komoditi di tingkat petani tetap tinggi, sesuai dengan standar hidup di Jepang yang termasuk paling tinggi di dunia.
Tidak seperti negara berkembang yang pada umumnya mengorbankan sektor pertanian untuk membangun industri, yaitu dengan memperkecil nilai tukar hasil pertanian di hadapan barang produk industri, di Jepang nilai tukar keduanya selalu diusahakan setara. Dengan begitu, tingkat kesejahteraan para petani tidak kalah dengan dengan masyarakat yang bekerja di sektor industri. Strategi tersebut bukan tanpa resiko. Semula, Jepang memang bisa menerapkan kebijakan untuk melarang impor komoditi pertanian yang banyak dihasilkan petanianya, kendati harganya lebih mahal dibandingkan harga pasar dunia. Namun pada 1993, Jepang dipaksa membuka keran impor, melalui Kesepakatan Umum tentang Tarif dan Perdagangan (GATT). Berdasarkan kesepakatan itu, mulai 1995 Jepang membuka impor beras, meskipun dibatasi hanya 4 persen dari kebutuhan beras dalam negeri. Memasuki tahun 2000, batasan itu diperbesar menjadi 4,8 persen.
Namun Pemerintah Jepang tetap melindungi petaninya, antara lain dengan menetapkan bea masuk cukup tinggi, disamping tetap memberikan subsidi pada input pertanian. Melalui koperasi, petani Jepang memang mempunyai lobi yang kuat di pemerintahan. Bahkan di Partai Demokrat Liberal (LDP) yang merupakan partai besar, banyak orang koperasi yang berkiprah. Mereka mampu meyakinkan pemerintah, bahwa membatasi impor komoditi pertanian dalam jangka panjang bakal menimbulkan ketergantungan yang bisa berakibat fatal. Dalam jangka pendek, melindungi pertanian di dalam negeri juga terkait dengan stabilitas politik nasional.
Lantas apakah pertanian Jepang menjadi pasif berlindung di balik proteksi pemerintah? Tentu saja tidak. Koperasi pertanian Jepang aktif melakukan kampanye yang mengusung tema "Produk Lokal Untuk Konsumen Lokal". Upaya untuk menjaga loyalitas penduduk Jepang pada produk pertanian dalam negeri ini tidaklah semata-matamengandalkan unsur emosional, tapi juga rasional. Sebab, kendati harganya relatif lebih tinggi, koperasi pertanian menjamin bahwa seluruh komoditi pertanian yang dihasilkan anggotanya memenuhi standar higienis tinggi.
Perkembangan bisnis setiap koperasi pertanian di Jepang pada gilirannyamendorong Zen Noh untuk terus melebarkan sayap bisnisnya, dengan jaringan yang tersebardi 26 negara, termasuk Indonesia, dan memiliki afiliasi dengan 249 perusahaan, jumlah karyawannya mencapai 12.500 orang lebih.